14
Aug
2020

Belajar Agama Islam

Belajar tidak mengenal waktu atau usia. Kita semua diharapkan untuk terus belajar. Meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan keterampilan hanya bisa dilakukan bila kita tidak berhenti belajar. Ini termasuk studi Islam. Ada banyak cara untuk mempelajari Islam. Bisa mencari melalui buku referensi Islam atau bisa dengan cara berikut ini.

Pertama, hadiri pertemuan keilmuan yang mempelajari dan mengajarkan ilmu agama, seperti studi mingguan, majelis taklim, kelas agama, akting reguler, dan banyak lagi.

Kedua, belajar melalui media sosial. Hadirnya Youtube, Instagram, Facebook, Twitter dan WhattsApp memudahkan masyarakat untuk berbagi ilmu agama – serta ilmu lainnya – dan belajar tentang Islam. Tentunya, kemudahan orang mengunggah ke media sosial membuat konten yang tersedia menjadi tidak aman. Di sinilah diperlukan kebijaksanaan, kecerdikan, dan kesadaran kita untuk menyaring informasi media sosial.

Ketiga, membaca buku-buku agama. Banyak sekali buku-buku Islam, baik karya cendekiawan klasik maupun kontemporer yang bisa kita jadikan sebagai sumber bacaan dan pembelajaran tentang Islam. Mulai dari keimanan, ibadah, muamalah, munakah, sirah, siyasah, Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqh dan lain-lain.

Seiring berjalannya waktu, makna dakwah mulai berubah. Dakwah lebih menitikberatkan pada upaya menciptakan motivasi daripada menyebarkan larangan melakukan perbuatan yang dilarang oleh ajaran agama.

Dakwah yang semula dimaknai ajakan berubah menjadi di’ayah (dakwah). Tentu saja, ada perbedaan besar makna di antara keduanya. Dakwah dalam bentuk bapak ini belakangan mendominasi wilayah publik di negeri ini. Mimbar dakwah di masjid, musalla atau akbar tabligh lebih menekankan seruan untuk mendukung upaya para dai, termasuk gerakan politik yang dilakukan dai. Jika dulu dakwah lebih ditujukan untuk mengembalikan orientasi pemahaman umat kepada al-akhlak al-Karimah, maka dakwah hari ini bertujuan untuk membangun dukungan dalam mengkritisi pemerintah.

Sedangkan dakwah bernuansa bapak mendorong masyarakat untuk memusuhi keberagaman pemikiran yang telah lama tumbuh subur di masyarakat. Alhasil, dakwah tidak lagi menjadi wadah untuk mencari jalan keluar bantuan banyak pihak. Dakwah ibarat kehilangan momentum dalam upaya memunculkan uswatun hasanah.

Buku ini ditulis sebagai jawaban atas keprihatinan tentang perubahan makna dakwah. Dari pengalaman yang ada di lapangan, tidak banyak dai atau dai lokal yang memahami penyebab kisruh dakwah ini. Nyatanya, masih banyak dai, ustadz dan ustadz yang belum mengetahui bagaimana radikalisme berkembang melalui dakwah.

Materi yang ditulis dalam buku ini bersumber dari hasil penelitian penulis tentang pemikiran yang berkembang antara mahasiswa dan mahasiswa, yang diduga masuk ke dalam perangkap radikalisme. Dari sedikit penelitian yang dilakukan penulis diketahui bahwa beberapa materi yang disampaikan kepada mahasiswa dan mahasiswa telah mendorong mereka untuk memasuki pintu radikalisme yang kini dianggap sebagai bagian dari malapetaka kemanusiaan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *